Bicara tentang Passion dan Masa Depan

Mei 30, 2018

Gambar dari : Dekoruma

Tuhan kadang menyembunyikan hadiah-hadiah indahnya di tempat yang tidak kita duga, yang mungkin sebelumnya ingin kita hindari.

Bisa mengajar buat saya menjadi satu anugrah. Selain, sedikit ilmu yang saya punya ini bisa bermanfaat setidaknya buat mengisi soal ujian, saya malah mendapat banyak ilmu dari anak-anak. Saya yang malah belajar pada anak-anak. Saya yang malah lambat laun bisa mengisi soal ujian yang Allah kasih ke saya. Apalagi setelah mengajar di kelas 7, selalu saja ada cerita yang saya bungkus pulang. Anak-anak seumuran mereka masih banyak rasa anak-anaknya dibandingkan remajanya. Mereka polos mengutarakan pertanyaan, pendapat, apa adanya dan manis. Seorang anak bertanya pada saya saat pelajaran,

“Kak, kakak cita-citanya mau jadi apa?”

Saya terdiam sejenak..
“Mau jadi dosen dek”

Cita-cita bagi anak-anak adalah sebuah profesi. Pasti terlalu abstrak kalau saya harus menjawab “Kakak mau jadi orang yang gak egois, yang hidupnya bukan cuma buat diri sendiri. Tapi, kakak juga mau bermanfaat buat banyak orang”. Jadilah jawaban itu saya ringkas menjadi sebuah kata “dosen”.

“Oh gitu. Kak, kalau arsitek sama insinyur gajinya gedean mana ka?”

Saya tertegun lagi, memilih kata-kata terbaik yang bisa saya utarakan.
“Tergantung dek. Tergantung dia kerjanya di perusahaan mana, proyeknya besar atau kecil, sudah banyak atau masih sedikit.”

“ooooh.. aku mah mau yang gajinya 30 juta per bulan ka” katanya polos.

See… anak-anak jaman now sudah punya orientasi materiil yang tinggi tenyata. Entah lingkungan, keluarga, atau media rupanya sudah mengajarkan betapa uang itu sebegitu pentingnya dalam hidup.
Kemudian temannya yang lain menambahkan,

“Mau gajinya gede? Jadi gamers aja..”

Saya tertawa. Tersadar bahwa mereka ada di zaman yang berbeda dengan saya dulu, dan dalam beberapa tahun ke depan akan banyak pilihan cita-cita baru yang diinginkan anak-anak. Anak-anak saya nanti mungkin juga tidak lagi pingin jadi pilot, dokter, polisi atau arsitek, mungkin sudah berubah jadi gamers, youtuber, bikin start up, dan pekerjaan-pekerjaa digital lainnya.

Hal yang ingin saya garis bawahi disini adalah pekerjaan yang menyenangkan adalah bukan tentang sebanyak-banyaknya penghasilan, tapi pekerjaan yang cukup. Cukup membuatmu bahagia, cukup tidak membebanimu ketika terbangun di pagi hari, dan cukup untuk membiayaimu plus menabung.
Memang kita hidup di dunia butuh uang. Itu adalah hal yang tidak bisa kita pungkiri. Tapi jangan jadikan itu sebagai tujuan utama. Kalau kata orang mah “follow your passion, money will follow you”.

Pusingnya kalau kita bingung apa sih passion kita? Itu pernah saya alami dan cara terbaik untuk menemukannya adalah terus berjalan dan memanfaatkan apa yang sudah kita punya, jangan kita mencari hal lain sementara hal yang sudah kita dapat seakan-akan dibuang gitu aja. Saya pernah ngerasa salah jurusan, dan melompat lompat ke hal lain di luar sana yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan saya. Namun, pada akhirya Allah memberi rezeki pada saya lewat apa yang sudah saya dapat di jurusan saya, jadi kenapa harus bertingkah seolah-olah apa yang saya enyam selama 4 tahun itu sama sekali gak ada?

Kita boleh mencoba hal baru, berharap pada bidang baru, tapi jangan lupakan apa yang sudah kita lakukan untuk dapat sampai di posisi sekarang, berapa banyak orang yang berkorban dan berjuang agar kita ada di posisi kita sekarang.

Balik lagi ke masalah uang, rezeki memang Allah yang mengatur. Namun, Allah sangat cinta sama hambanya yang terus berikhtiar, dan Dia tidak akan merubah keadaan kita sebelum kita yang merubahnya sendiri. Jadi, ya harus kita yang punya visi, berusaha, berdoa, kejadiannya serahkan sama Allah that’s it.

Saya baru setahun lebih mengajar, dan hampir 4 bulan bertambah waktu yang cukup intens, alhamdulillah. Masih guru amatiran yang harus terus belajar. Alhamdulillahnya, Allah cukupkan apa yang saya dapat buat memenuhi kebutuhan bulanan saya dan sedikit keinginan-keinginan plus nabung, karena makan dan tempat tinggal alhamdulillah masih gratis di rumah ortu.

Nah, bedanya disini. Setelah saya merasa senang mengajar, saya mencari kira-kira step apalagi yang bisa saya tuju supaya hidup saya semakin baik.  Jadi, semakin dewasa memang kita akan semakin realistis, tapi kita harus tetap punya visi yang ingin kita capai. Visi itulah yang menggerakkan kaki kita supaya terus semangat berjalan ke depan, dan tidak berhenti.

So, jangan berhenti dan jangan menghapus jejak yang sudah diukir ya, Insya Allah akan dikasih petujuk sama Allah kita harus lewat jalan mana. aamiin


( Tulisan ini pernah saya publish di tumblr saya sendiri pada tanggal 24 November 2017, lalu dipost ulang di sini )

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images