Life After Graduate

Maret 31, 2019

Kata orang, di umur 22 hidup akan berubah total, banyak hal yang terjadi dan mengubah hidupmu. Absolutely, yes..that’s true, that’s what happened to me. 22 tahun pada 2017, adalah umur dimana aku telah menyelesaikan studi S1 di tahun sebelumnya, mendapat gelar sarjana, nilaiku alhamdulillah baik. Apa yang harus dikawatirkan? Menurutku hidup akan lancar-lancar saja. Kampusku bukan kampus biasa, kampus negeri yang punya nama. Namun, banyak hal yang terjadi diluar dugaan.

Sejak masuk kuliah, tujuanku cuma satu, segera selesai S1 dan langsung lanjut S2 tanpa jeda. Itu masih aku pegang sampai semester 7, dan berubah drastis saat semester 8, semester akhir. Tiba-tiba orientasiku langsung tertuju pada bagaimana aku bisa hidup mandiri, memiliki penghasilan sendiri. Aku yang selama kuliah tinggal dengan orang tua, jarakku ke kampus hanya 15 menit, sama sekali belum punya pengalaman bekerja, atau menghasilkan uang sendiri merasa tertantang dan malu pada saat bersamaan. Kupikir inilah saatnya aku membuktikan pada orang tua bahwa aku bisa mandiri, dan tidak lagi membebani mereka secara finansial.

Aku bersikukuh ingin kerja dahulu setahun, dan kemudian S2 di tahun berikutnya dengan beasiswa. Yak itulah bayangan ideal yang ada di kepala. Belum sebulan setelah aku wisuda, aku dinyatakan diterima bekerja di salah satu Bimbel ternama di Jakarta, namun dengan gaji UMR Jakarta dan ijazahku yang harus ditahan 2 tahun. Sebetulnya saat itu aku ingin nekat, tapi orang tua cukup berat melepasku, dan hatiku juga belum sekukuh itu juga untuk mengambil keputusan dan jauh dari orang tua. 

Keadaanya, kami dirumah hanya bertiga, mama, aku dan adik laki-lakiku yang saat itu akan masuk kuliah. Mama sangat mendukung apapun langkahku, terutama cita-citaku untuk melanjutkan studi. Namun, ketika aku mengubah tujuanku, mama tidak semudah itu menerimanya, aku maklum. Setelah akhirnya aku tidak mengambil kesempatan kerja itu, mendapat pekerjaan lagi terasa begitu sulit. Hubunganku dengan orang tua juga menjadi tidak baik. Kami sering berdebat, aku kehilangan kepercayaan diri, bingung, stress. Hampir setengah tahun kerjaanku hanya dirumah, mempertanyakan tentang hidup dan pilihan yang kubuat. Beberapa kegiatan aku lakukan, tapi tidak ada yang berhasil, membuatku menemukan sesuatu, apalagi menghasilkan.  Sebetulnya, disaat yang bersamaan, aku mengajar di salah satu sekolah swasta, namun hanya sekali seminggu, 6 hari sisanya luntang lantung. Bertemu teman pun malu, buka sosial media malah tertekan dan membanding-bandingkan dengan hidup orang lain, dengan mereka yang sudah bekerja atau langsung lanjut kuliah.

Pertengahan tahun 2017, aku dapat pekerjaan, mengajar bimbel di dekat rumah, freelance. Kataku, tak apalah yang penting aku bisa punya penghasilan sendiri. Teman-temannya sangat nyaman, muridnya pun seru, tapi dari segi penghasilan menurutku terlalu rendah untuk ukuran Bandung. Aku tetap menjalani pekerjaan itu, sambil terus mencari cara untuk mengupgrade diri dan mencari pekerjaan lebih baik tentunya. Tahun itu pula, CPNS dibuka, dua kali. Aku ikut keduanya, dan gagal di tahap kedua. Setelah itu aku berfikir, langkah apa lagi yang harus aku tempuh. Aku meyakinkan diri untuk lanjut kuliah saat itu. Beberapa bulan sebelumnya ada beberapa beasiswa yang aku coba tapi semuanya gagal. 


Keputusan terberat adalah ketika aku harus bilang pada orang tua bahwa aku ingin kuliah, dan belum punya beasiswa, artinya orang tua yang harus menanggung. Aku malu, dengan keegoisanku sendiri. Tahun sebelumnya saat orang tua menawarkan membiayai kuliah S2, aku tolak mentah-mentah, sekarang aku minta itu kembali. Sumpah, malu !

Namun, rasa malu itu terkalahkan oleh rasa ingin bikin orang tua bangga dan punya kehidupan yang lebih baik dari yang kujalani saat itu. Satu-satunya cara yang terlintas saat itu hanya itu, kuliah lagi. Orang tua yang sudah pasrah, dan menyerahkan segala keputusan padaku kaget sekaligus bahagia disaat yang sama. Aku tahu orang tua merestui aku untuk lanjut kuliah. Padahal ditahun depannya, 2018 adikku juga akan masuk kuliah. Namun, ya begitulah kasih sayang orang tua, ingin selalu yang terbaik untuk anaknya, mama bialng "Biismillah aja insya Allah ada rezekinya". :"""""

Aku tahu pikiranku saat itu sempit banget, padahal cara memperbaiki kehidupan bukan cuma dengan sekolah, tapi bisa dengan berbisnis, fokus pada satu hal dari nol, dengan berusaha. Dan, aku tahu saat itu pikiranku sempit, aku pikir saat kuliah aku tidak bisa sambil memiliki penghasilan. Padahal itu sangat mungkin dilakukan bersamaan, semuanya bisa dilakukan kalau kita mau berusaha.

Saat menjalani kuliah S2, aku bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Aku gak mau sekedar kuliah, terus pas lulus malah jadi bingung dan merepotkan orang lain. Makanya, sekarang sambil kuliah aku menjajal dunia blogging, berkomunitas, terus mengajar privat, Alhamdulilllah Allah terus permudah rezekinya, bisa sedkit-sedikit disisihkan untuk bayar kuliah. Setelah memutuskan kuliah lagi, hubunganku dengan oarngtua terutama mama juga seperti langsung triiing membaik, 180 derajat kembali seperti dulu sebelum aku lulus. Itu kekuatan restu yang aku sangat rasakan.

Note : sambil kuliah coba untuk sambil melakukan pekerjaan, coba menghasilkan supaya setelah lulus bisa lebih jernih berpikir mau langsung kerja atau kuliah lagi. Itu juga yang aku ajarkan pada adikku.

Ya, pengalaman memang guru terbaik.




Postingan ini adalah kolaborasiku dengan teman teman Bandung Hijab Blogger :) Boleh cek tulisan teman-temanku yang lain :)  

You Might Also Like

12 komentar

  1. Ridho orang tua memang kunci kebahagiaan ya... Semangat terus ya

    BalasHapus
  2. Km ga sendiri teh mostly anak fresh graduate pernah mengalami hal yg sama :')

    BalasHapus
  3. #restu :)
    Kalo ortu ridho, emang segala jadi mudah yaa

    BalasHapus
  4. Aku baper sama quotes kamu semua. Emang bener ya hidup itu misteri dan kita ga pernah tahu keputusan kita betul2 benar atau salah :")

    BalasHapus
  5. dulu juga aku gitu udah abis lulus langsung pengen S2 tapi seiring berjalannya waktu semua berubah, semangat ya mi :)

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah pada akhirnya happy ending ya.. semuanya emang bs jadi pelajaran untuk selali berpikir matang2 sebelum mengambil keputusan. Sukses terus ya teh!

    BalasHapus
  7. Semangat teh Ami. InsyaAllah di setiap keputusan pasti ada kejutan Yang menyenangkan dariNya.

    BalasHapus
  8. Restu orang tua itu memang luat biasa yaa, bisa membalikkan hal2 yg sulit menjadi mudah

    BalasHapus
  9. Nah ini perbaikin hubungan sama orang tua terutama mama insyaAllah Allah akan memperbaiki hidup kita. Selamat udah bisa lulus S2. Keren

    BalasHapus
  10. Aku juga pernah ngalamin hal yang sama, aku dihubungi untuk interview kerja di Jakarta, tapi orangtua rasanya berat buat melepas aku, sampe di-sidang segala, aku, ibu, dan bapak, bicara bertiga di kamar. Mungkin karena kita cewek kali yah.

    Semoga ilmu S2 nya bisa bermafaat untuk lingkungan sekitar ya teh :) keren se-muda itu udah lulus S2

    BalasHapus
  11. semangat teh, semoga lulus tepat waktu dan sukses dalam mendapatkan karir..biar dapat penghasilan dan bisa jalan-jalan..eh loh hehehehee...sukses selalu ya teh :)

    BalasHapus
  12. Setelah lanjut S2, ternyata fokusnya berubah jadi mengurus keluarga. Iya itu aku. Gatau harus nyesel atau biasa aja. Wkwk

    BalasHapus

Ikuti Blog Ini

Pengunjung

Social Media