Darimana dan kemana perginya barang yang kita pakai? : Sebuah Ringkasan The Story of Stuff

Juni 27, 2020


 Unsplash : Luca Laurence

Barang/materi bergerak dalam sebuah sistem yang disebut material economy, dimulai dari ekstraksi, produksi, distribusi, konsumsi dan pembuangan. Namun, ini bukan cerita seutuhnya dari sebuah barang, dari mana barang tersebut berasal dan kemana berakhirnya barang.

Sistem tersebut merupakan sistem linear yang padahal tidak mungkin terjadi di planet yang terbatas ini. Ada banyak hal yang tidak terbahas seperti kondisi sosial, budaya, ekonomi, lingkungan dan benturan dengan limit (batas kemampuan). Hal terpenting yang dilupakan adalah adanya manusia pada sistem ini.

Ada manusia-manusia yang memiliki tanggung jawab lebih pada rakyat, yaitu pemerintah. Namun, pada kenyataannya korporat/perusahaan malah tumbuh lebih besar daripada pemerintah, sehingga pemerintah kurang memiliki kuasa atau kendali atas berjalannya sistem dan malah menguntungkan perusahaan bukan rakyat dan buminya.

Dapat kita lihat bahwa terjadi ekploitasi yang berlebihan pada sumber daya alam. Manusia menambang, mengangkut dan membuang smapah terlalu banyak. Hal ini menyebabkan sumber daya alam menjadi habis, hanya tinggal tersisa 1/3 nya. Bisa dilihat pada contoh kasus di Amerika, masyarakatnya hanya 5 % dari populasi bumi namun, menggunakan hampir 30 % dari sumber daya yang dimiliki bumi. Hal ini melebihi kapasitas yang mampu diberikan oleh bumi. Sumber daya alam banyak dinikmati oleh orang di luar yang tinggal jauh dengan sumber daya alam.

Dalam proses produksi, kita mengunakan energi untuk menggabungkan antara sumber daya alam dengan bahan-bahan toksik. Ada 100.000 lebih bahan kimia sintetik yang digunakan saat ini dan hanya sedikit yang baru diuji aman bagi tubuh. Sementara sisanya selalu bersentuhan dengan kita. Sebagai contoh, Brominated Flame Retardants membuat sesuatu menjadi tahan dibakar namun bahan ini sangat berbahaya bagi otak yang digunakan pada komputer, bahkan sampe ke bantal. Bahan-bahan berbahaya tersebut akan terkontaminasi di tubuh. Salah satu yang paling banyak menyimpan kontaminan ini adalah ASI yang seharusnya merupakan sesuatu yang aman dan sacral bagi generasi paling muda di bumi. 

Selain itu, dalam proses produksi ini ada perempuan dengan umur produktif yang mau tidak mau bergabung dalam sebuah sistem yang berhubungan dengan bahan toksik. Dapat dikatakan mereka merupakan orang-orang yang tidak mempunyai pilihan. Sama seperti orang-orang desa atau masyarakat adat yang dekat dengan alam yang lingkungan sekitarnya dieksploitasi oleh orang luar yang akhirnya pindah ke kota untuk mencari pekerjaan walaupun pekerjaan tersebut akan berbahaya baginya. Toxic in toxic out, semakin banyak bahan bahan berbahaya yang masuk semakin banyak pula bahan berbahaya yang dikeluarkan. Limbah ini tak jarang dibuang ke laut.

Selanjutnya pada tahap ditribusi, barang dibiarkan berjalan dengan cepat, dengan harga yang rendah. Harga rendah didapatkan karena perusahaan tidak menggaji pegawai dengan baik, ini disebut sebagai externalize cost yang tidak terhitung pada harga suatu barang. Seperti contohnya bagaimana harga radio dapat begitu murah sementara bahan-bahannya didapatkan dari berbagai negara yang berbeda. Setelah disadari sebenarnya bukan kostumer lah yang membayar harga dari suatu barang. Ada orang-orang di sekitar hutan yang kehilangan hutannya, ada pekerja pabrik yang harus berhadapan dengan kanker dan asma karena gas yang berbahaya. Hal tersebut yang dimaksudkan oleh perusahaan dengan mengeksternalisasi biaya.

Kemudian hal inilah yang paling penting, jarak antara distribusi dan konsumsi. Pola konsumsi dan kegiatan berbelanja. Ketika kita terus berbelanja, kita membiarkan sistem tersebut terus berjalan tiada henti, kita ikut ada dalam sistem tersebut berkontribusi pada kerusakan dan ketidakadilan yang terjadi. Barang-barang yang menumpuk ini akan terus mengalir dan berakhir menjadi sampah. Semua ini telah didesain, untuk meningkatkan ekonomi orang-orang didesain untuk konsumtif selalu memberi barang, menganti barang baru, membuangnya dengan kecepatan yang tinggi. Victor Lebow menyebutkan untuk meningkatkan ekonomi banyak barang yang diciptakan untuk mudah rusak (planned obsolescence). Ada pula yang diciptakan seolah-olah telah tidak layak dengan mendesain perubahan penampilannya dan adanya tren yang memaksa kita untuk membeli barang sesuai perkembangan tren (perceive obsolescence). Hal ini dipengaruhi iklan dan media, yang menyebabkan kita tidak bahagia dan cara menyelamatkannya dengan merasa harus berbelanja. 

Sayangnya, setelah dilakukan studi di Amerika ternyata banyaknya barang yang dimiliki tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Punya banyak barang membuat kita kehabisan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga, orang tercinta, teman. Banyak dari masyarakat terutama di US menghabiskan waktu luang dnegan nonton TV dan berbelanja. Kemudian, manusia harus bekerja lebih keras untuk memenuhi gaya hidupnya, semakin banyak barang yang dibeli, menumpuk, bekerja keras lagi begitu seterusnya.

Kemudian, barang barang ini akan menumpuk ke tempat pembuangan TPA atau TPS. Menjadi timbunan di landfill atau harus dibakar menggunakan insenerator. Hal ini akan menimbulkan pencemaran air, udara, tanah dan merubah iklim. Ketika sampah dibakar, bahan-bahan toksik saat proses produksi akan keluar ke udara, ditambah dengan bahan berbahaya yaitu Dioxin. Tentunya kita harus menghentikan proses pembakaran ini. 

Kemudian apa yang harus dilakukan ? Apakah daur ulang membantu? Ya, daur ulang membantu, namun daur ulang saja tidak pernah cukup. Beberapa alasan diantaranya pertama, sampah yang keluar dari rumah semua orang akan sangat banyak bila harus seluruhnya di daur ulang ini tidak menyelesaikan masalah. Kedua, beberapa sampah benar-benar tidak dapat didaur ulang sebagai contoh beberapa kemasan dengan beberapa layer yaitu kotak jus yang terdiri dari lapisan metal kertas dan plastik.

Kabar baiknya ada orang-orang bertanggung jawab di setiap prosesnya. Ada orang-orang yang menjaga hutan, melakukan clean production, menjunjung keadilan pekerja, consumer yang berkesadaran dan tidak mendukung insenerator, dan yang paling penting adalah pemerintah. Jika semuanya mau bergerak kita dapat mengubah sistem linear ini menjadi sistem yang circular, sistem yang tidak membuang-buang sumber daya maupun orang. Hal-hal seperti zero waste, close loop production, renewable energy yang dapat memaksimalkan usaha ini 

Tonton Video The Story of Stuff disini !! <3
Have a Nica Day :)

You Might Also Like

0 komentar

Ikuti Blog Ini

Pengunjung

Social Media