Memutuskan Bahagia

Juli 31, 2021

Hidup kita pasti diuji. Dengan hal-hal yang membuat kita sedih, sampai hal-hal yang membuat bahagia. Itu juga ujian.
Kalau diuji dengan kesenangan, mungkin hati kita gak mengidentifikasi itu sebagai ujian karena perasaan positif yang kita rasakan. Namun, kalau kita diuji dengan kesedihan, perasaan "diuji" itu sangat terasa ya:") Rasanya berat. Kadang kita larut dalam kesedihan, berhari hari, berminggu minggu, berbulan bulan.
Namun, hidup akan terus berjalan. Apakah dengan kesedihan yang kita rasakan, kita jadi gak pantas buat bahagia? Kan gak gitu.

Hal yang aku pelajari belakangan ini, sebenernya kita gak bisa menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu, apalagi sesuatunya makhluk, omongan orang, harta, samapai jabatan. Sesuatu yang tidak abadi.

 
Bahagia tuh ibarat tombol on off yang bisa kita kendalikan sendiri. Masalahnya kita mau atau engga usaha sendiri buat nge-switch tombolnya.
Kita bisa loh bahagia walaupun sedang diuji dengan masalah dan kesedihan. Ujian yang Allah SWT kasih itu kan sarana buat kita dapet pahala, kalau kita sabar menghadapinya. Allah SWT juga bilang kalau,
Allah SWT akan menguji orang-orang yg beriman.
Gimana cara Allah SWT tau tingkatan iman kita, kalau bukan lewat ujian?
Bukannya kalau kita lolos ujian itu, tabungan pahala kita di akhirat makin banyak? 
Insya Allah, derajat kita dinaikkan oleh Allah SWT kan?

Begitu pula ketika kita mendapatkan sesuatu yang menurut orang kebanyakan membahagiakan. Bisa saja kita tidak merasa bahagia, karena satu dan lain hal 

Jadi kalau lagi sedih, terima kesedihan itu sebagai sebuah perasaan wajar, manusiawi. Kita boleh loh sedih, nangis. Namun, kita harus punya ambang batas yang alarmnya ngingetin kita "Udah ya, udah cukup sedihnya. Lo pantes bahagia". 

Walaupun masalah yang kita hadapi belum selesai, tapi kita punya energi lebih buat menjalani hari. Minta bantuan Allah, semua akan selesai pelan-pelan.

You Might Also Like

0 komentar

Ikuti Blog Ini

Pengunjung

Social Media